genggam tangan dan laku mu, menjadi salah dua hal yang harapnya tidak pernah aku dalami. bertemu ia dengan ujung bajuku yang lusuh, menahan diri agar pikir tak melangkah berani lalu tenggelam tanpa tolong. semua yang kau dan aku alami hanya sekilas dari potret anak enam tahun yang bahkan meramu air untuk dirinya sendiri saja belum mampu. kau terbang dengan kereta kudamu, meninggalkan banyak tanya, menyisakan angin dingin yang membuat aku membeku. sudah sampai di mana, kau? masihkah kau kantongi seribu dua ribu mimpi kita di saku kiri mu? jika iya, maka buang saja. limpahkan mereka ke sungai yang kau lewati. taburkan mereka di atas tanah mati. jangan biarkan hidup kembali. -120122, dey.
" T his is the most recent story of mine . Aku sedang ingin bercerita, karena dari sini aku belajar banyak hal. Maaf jika terlalu panjang. Semoga berkenan membacanya sampai akhir. " Aku memiliki seseorang yang aku kagumi sejak duduk di bangku SMA. Dia hangat, cerdas, dan punya selera humor yang tinggi. Dia berbeda dari kebanyakan anak SMA pada saat itu. Tapi yang paling membuatku tertarik adalah saat ia mengajariku cara bermain rubik. Aku ingat dengan jelas bagaimana binar matanya terpancar saat menjelaskan rumus-rumus rubik kepadaku. Dalam hitungan detik, aku dapat memahami bahwa ia jatuh cinta dengan rubik itu, dan aku jatuh cinta dengannya. Singkat cerita, setelah lulus SMA, aku dan dia masuk ke universitas di kota yang berbeda. Meskipun begitu, kami masih sering berkomunikasi melalui WhatsApp dan Instagram , tetapi tidak intens karena kami bukan siapa-siapa satu sama lain. Saat kami masih menjadi mahasiswa baru, ia juga sering membalas ceritaku di Instagram . Begitu jug...
titik kelabu di ujung jalan itu menjadi alasan mengapa gema tak segan menyusuri tubuh. kau dilahap kabut beriringan dengan detak di pergelangan kiriku. awal dan akhir kita bagai kereta sore hari yang membawa beban penantian satu pasang mata di tepian kota. tengah kita berliku hingga banyak kata yang tersesat, mencekik leher dan membekap mata. hidupmu penuh lara yang harusnya tak kau hujamkan padaku juga. kau hilang arah dan tujuan. aku merajut benang demi benang, membangun tangga ke langit lepas. kau merangkai kayu demi kayu, membangun peti di bawah tanah. aku mengetuk. satu kali. dua kali. apa yang kau lakukan di rumah tua itu? tiga kali. ragaku sekarat . kau nyalakan api di tengah kegelapan kita. dan aku terkapar, tak sempat meloloskanmu dari kobaran merah hitam itu. manik kita bertemu di sela kemurungan. hanya diam, menunggu waktu kematian sia-sia; aku dan kau . -d, 12:15 a.m.-
Komentar
Posting Komentar