Lara, adalah gadis yang tidak suka dipanggil dengan namanya sendiri. Balkon lantai 13 tempat ia berdiri saat ini menjadi saksi bagaimana kedua manik Lara meratapi hidupnya yang kini sama seperti namanya. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, anak-anak di kelas selalu meneriaki Lara. Tidak ada yang ingin berada di sampingnya karena mereka takut akan ikut bernasib buruk. Lara kerap kali protes dengan Bunda tentang semua yang dilaluinya. " Susah, nak. Kamu harus pergi ke tempat yang jauh sekali hanya untuk ganti nama. Bunda sibuk, gak bisa nemenin. " Kalimat yang selalu Bunda lontarkan tidak pernah gagal membungkam Lara, dan membuatnya menangis seperti sekarang. Lara baru saja bercerita kepada Bunda mengenai dirinya yang pada hari pertama masuk sekolah menengah atas, sudah membuat keributan hingga kepala sekolah harus turun tangan mengatasinya. Ia difitnah mencuri uang seniornya dan memandang rendah seorang guru yang menengahi mereka tadi. Belum lagi tatapan jijik ia dapatkan da...
genggam tangan dan laku mu, menjadi salah dua hal yang harapnya tidak pernah aku dalami. bertemu ia dengan ujung bajuku yang lusuh, menahan diri agar pikir tak melangkah berani lalu tenggelam tanpa tolong. semua yang kau dan aku alami hanya sekilas dari potret anak enam tahun yang bahkan meramu air untuk dirinya sendiri saja belum mampu. kau terbang dengan kereta kudamu, meninggalkan banyak tanya, menyisakan angin dingin yang membuat aku membeku. sudah sampai di mana, kau? masihkah kau kantongi seribu dua ribu mimpi kita di saku kiri mu? jika iya, maka buang saja. limpahkan mereka ke sungai yang kau lewati. taburkan mereka di atas tanah mati. jangan biarkan hidup kembali. -120122, dey.
disclaimer: a short au. " Jay, apa kabar? Udah berapa lama ya aku ga nyapa kamu kaya gini? Terakhir waktu kita naik kereta bareng, ceritanya traveling. Aku masih ingat banget topi yang kamu pake hari itu, warna hitam dengan logo brand kesukaanmu di tengahnya. Kamu juga pake kaos oasis yang kata kamu waktu itu paling nyaman untuk naik kereta siang hari. Sebenarnya aku masih gak paham maksud kamu, tapi kamu ngejelasinnya serius banget jadi aku manggut-manggut aja karena kamu lucu. Ga ada korelasinya tapi yaudahlah ya? Aku ingin ketemu kamu, Jay. Ingin main gunting batu kertas dengan kamu lagi kaya waktu itu. Aku cuma menang sekali, jadi aku hanya bisa menyentil kepalamu satu kali. Kesal sedikit, tapi karena kamu lucu jadi gapapa deh. Ingat ga, Jay, habis itu kita makan es krim? Kamu pesan rasa pisang dan aku cokelat mint. Saat aku tanya kenapa kamu selalu pesan dessert apapun dengan rasa pisang, jawabanmu karena pisang lambangnya bahagia. Jujur sekali lagi aku ga paham, tapi kamu ...
Komentar
Posting Komentar