vas bunga, atap, sepeda, pintu. masih teringat mereka akan kamu yang dulu. "t u n g g u a k u.." katamu. hingga telah lewat kali ketiga bulan Desember kamu masih belum kembali. sebercanda itu kah aku bagi kamu? aku tak butuh dihargai, cukup perhatikan saja hatiku; yang telah retak. hatiku banyak fungsi, bukan cuma tempatmu menanamkan harapan tak pasti. jika kelak kamu teringat akan janji, jangan lupa kembali. datanglah sejenak. kamu tak perlu menetap, sungguh. sebab aku tahu dan mengerti jikalau kamu telah tinggal tetap di hati yang lain. hanya saja... tolong bantu aku, untuk tutupkan kembali pintu yang tadinya kau biarkan menganga.
Kaki ini melangkah, sungguh, kau lihat sendiri saja. Aku mampu berpindah, walau hanya selangkah. Mata ini tak lagi basah, sungguh, kau tatap sendiri saja. Aku mampu menyeka, walau yang tersisa hanya hampa. Lidah ini tak lagi kelu, sungguh, kau tanya sendiri saja. Aku mampu berucap, walau tentang kehilangan. Namun, logika ini hampir saja mati. Sebab daripada kamu; sang pencuri warasku.
" T his is the most recent story of mine . Aku sedang ingin bercerita, karena dari sini aku belajar banyak hal. Maaf jika terlalu panjang. Semoga berkenan membacanya sampai akhir. " Aku memiliki seseorang yang aku kagumi sejak duduk di bangku SMA. Dia hangat, cerdas, dan punya selera humor yang tinggi. Dia berbeda dari kebanyakan anak SMA pada saat itu. Tapi yang paling membuatku tertarik adalah saat ia mengajariku cara bermain rubik. Aku ingat dengan jelas bagaimana binar matanya terpancar saat menjelaskan rumus-rumus rubik kepadaku. Dalam hitungan detik, aku dapat memahami bahwa ia jatuh cinta dengan rubik itu, dan aku jatuh cinta dengannya. Singkat cerita, setelah lulus SMA, aku dan dia masuk ke universitas di kota yang berbeda. Meskipun begitu, kami masih sering berkomunikasi melalui WhatsApp dan Instagram , tetapi tidak intens karena kami bukan siapa-siapa satu sama lain. Saat kami masih menjadi mahasiswa baru, ia juga sering membalas ceritaku di Instagram . Begitu jug...
Komentar
Posting Komentar