Lara, adalah gadis yang tidak suka dipanggil dengan namanya sendiri. Balkon lantai 13 tempat ia berdiri saat ini menjadi saksi bagaimana kedua manik Lara meratapi hidupnya yang kini sama seperti namanya. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, anak-anak di kelas selalu meneriaki Lara. Tidak ada yang ingin berada di sampingnya karena mereka takut akan ikut bernasib buruk. Lara kerap kali protes dengan Bunda tentang semua yang dilaluinya. " Susah, nak. Kamu harus pergi ke tempat yang jauh sekali hanya untuk ganti nama. Bunda sibuk, gak bisa nemenin. " Kalimat yang selalu Bunda lontarkan tidak pernah gagal membungkam Lara, dan membuatnya menangis seperti sekarang. Lara baru saja bercerita kepada Bunda mengenai dirinya yang pada hari pertama masuk sekolah menengah atas, sudah membuat keributan hingga kepala sekolah harus turun tangan mengatasinya. Ia difitnah mencuri uang seniornya dan memandang rendah seorang guru yang menengahi mereka tadi. Belum lagi tatapan jijik ia dapatkan da...
" T his is the most recent story of mine . Aku sedang ingin bercerita, karena dari sini aku belajar banyak hal. Maaf jika terlalu panjang. Semoga berkenan membacanya sampai akhir. " Aku memiliki seseorang yang aku kagumi sejak duduk di bangku SMA. Dia hangat, cerdas, dan punya selera humor yang tinggi. Dia berbeda dari kebanyakan anak SMA pada saat itu. Tapi yang paling membuatku tertarik adalah saat ia mengajariku cara bermain rubik. Aku ingat dengan jelas bagaimana binar matanya terpancar saat menjelaskan rumus-rumus rubik kepadaku. Dalam hitungan detik, aku dapat memahami bahwa ia jatuh cinta dengan rubik itu, dan aku jatuh cinta dengannya. Singkat cerita, setelah lulus SMA, aku dan dia masuk ke universitas di kota yang berbeda. Meskipun begitu, kami masih sering berkomunikasi melalui WhatsApp dan Instagram , tetapi tidak intens karena kami bukan siapa-siapa satu sama lain. Saat kami masih menjadi mahasiswa baru, ia juga sering membalas ceritaku di Instagram . Begitu jug...
genggam tangan dan laku mu, menjadi salah dua hal yang harapnya tidak pernah aku dalami. bertemu ia dengan ujung bajuku yang lusuh, menahan diri agar pikir tak melangkah berani lalu tenggelam tanpa tolong. semua yang kau dan aku alami hanya sekilas dari potret anak enam tahun yang bahkan meramu air untuk dirinya sendiri saja belum mampu. kau terbang dengan kereta kudamu, meninggalkan banyak tanya, menyisakan angin dingin yang membuat aku membeku. sudah sampai di mana, kau? masihkah kau kantongi seribu dua ribu mimpi kita di saku kiri mu? jika iya, maka buang saja. limpahkan mereka ke sungai yang kau lewati. taburkan mereka di atas tanah mati. jangan biarkan hidup kembali. -120122, dey.
Komentar
Posting Komentar